Friday, March 26, 2010

50 Jembatan Terindah Dan Mengagumkan

Akashi-Kaikyō Bridge (Kobe, Japan)


Bixby Creek Bridge (Big Sur, California, USA)


Bosphorus Bridge (Istanbul, Turkey)


The Bridge of Aspiration (Covent Garden, London, UK)


Bridge of Sighs (Venice, Italy)


Brooklyn Bridge (Brooklyn, New York, USA)


Chengyang Bridge (Sanjiang of Guangxi Province, China)


Chesapeake Bay Bridge (Chesapeake Bay, Maryland, USA)


The Iron Bridge (Coalbrookdale, UK)


Confederation Bridge (New Brunswick, Canada)


Coronado Bridge (San Diego, California, USA)


Donghai Bridge (Shanghai, China)


Erasmus Bridge (Rotterdam, Netherlands)


Fehmarn Belt Bridge (Hamburg, Germany to Copenhagen, Denmark)


Forth Railway Bridge (Fife, Scotland)


Gateshead Millennium Bridge (Gateshead to Newcastle, UK)


Golden Gate Bridge (San Franciso, California, USA)


The Half-Bridge of Hope (Russia)


Hangzhou Bay Bridge (Hangzhou Bay, China)


Humber Bridge (Kingston upon Hull, England)


Hussaini Bridge (Passu, Pakistan)


Jadukata Bridge (Ranikor, India)


Kawazu (Kawazu-cho, Japan)


Khaju Bridge (Isfahan, Iran)


Kintaikyo Bridge (Iwakuni City, Japan)


Mackinac Bridge (Gaylord, Michigan, USA)


Magdeburg Water Bridge (Magdeburg, Germany)


The Millau Viaduct (Millau, France)


Nanpu Bridge (Shanghai, China)


Natural Bridge


New River Gorge Bridge (Fayetteville, West Virginia)


Oresund Bridge (Copenhagen, Denmark to Malmö, Sweden)


Pont du Gard (Vers-Pont-du-Gard, France)


Ponte Dom Luís (Porto to Vila Nova de Gaia, Portugal)


Ponte Vecchio (Florence, Italy)


Puente del Alamillo (Seville, Andalusi, Spain)


Red Bridge (Oude Diemen, North Holland)


Rio–Antirrio Bridge (Rio to Antirrio, Greece)


Stari Most (Mostar, Bosnia and Herzegovina)


Sundial Bridge (Redding, California)


Sunshine Skyway Bridge (Tampa Bay, Florida)


Sutong Bridge (Suzhou, China)


Syndey Harbour (Sydney, New South Wales)


Thomas Malone Covered Bridge (Beaver Creek, Ohio)


Tower Bridge (London, UK)


Tsing Ma Bridge (Hong Kong, China)


Vasco da Gama Bridge (Lisbon, Portugal)


Verrazano-Narrows Bridge (Staten Island to Brooklyn, New York, USA)


West Montrose Covered Bridge (Ontario, Canada)


Leonard P. Zakim Bunker Hill Bridge (Boston, Massachussetts, USA)


sumber: http://feedproxy.google.com/~r/Strov/~3/pQ40ULJtMeY/50-jembatan-terindah-dan-mengagumkan.html
»baca selengkapnya...

Misteri Mayat Berjalan dari Toraja

Ini cerita dari temanku yang tinggal di Toraja satu kota kecil yang sangat indah dan penuh mistis di Indonesia. kota ini terletak di Provinsi Sulawesi Selatan (sekitar 8 jam melalui jalur darat dr Makassar).Cerita ini sudah sangat sering terdengar, Jujur aku sih belum pernah melihatnya secara langsung. tapi cerita ini benar2 ada dan nyata.

"Sebagai orang Toraja asli, temanku (sumber) sangat sering ditanya oleh teman2nya tentang uniknya kebudayaan Tana toraja khususnya tentang fenomena mayat berjalan. Dia (sumber) sendiri lahir dan tumbuh besar di Tana Toraja sehingga dia mengetahui tentang adat & kebudayaan di Tana Toraja walaupun tidak sepenuhnya menguasai secara keseluruhan tentang asal usul dan segala macam hal mengenai adat Toraja.
Cerita mayat berjalan sudah ada sejak dahulu kala. ratusan tahun yang lalu konon terjadi perang saudara di Tana toraja yakni orang Toraja Barat berperang melawan orang Toraja Timur. dalam peperangan tersebut orang Toraja Barat kalah telak karena sebagian besar dari mereka tewas, tetapi pada saat akan pulang ke kampung mereka seluruh mayat orang Toraja Barat berjalan, sedangkan orang Toraja Timur walaupun hanya sedikit yang tewas tetapi mereka menggotong mayat saudara mereka yang mati, karena kejadian tersebut maka peperangan tersebut dianggap seri. pada keturunan selanjutnya orang-orang Toraja sering menguburkan mayatnya dengan cara mayat tersebut berjalan sendiri ke liang kuburnya.


Fenomena “Mayat berjalan” ini sendiri pernah disaksikan langsung oleh temanku (sumber). kejadian tersebut terjadi sekitar tahun 1992 (saat sumber baru kelas 3 SD). menurut dia, pada saat itu ada seorang bernama Pongbarrak yang ibunya meninggal. seperti adat orang Toraja sang mayat tidak langsung dikuburkan tetapi masih harus melalui prosesi adat penguburan (rambu solo’). saat itu setelah dimandikan mayat sang ibu diletakkan di tempat tidur dalam sebuah kamar khusus sebelum dimasukkan kedalam peti jenasah. pada malam ketiga seluruh keluarga berkumpul untuk membicarakan bagaimana prosesi pemakaman yang akan dilaksanakan nanti. saat itu temanku (sumber) duduk di teras rumah, maklum anak-anak jadi suka mondar mandir. namun setelah rapat selesai (sekitar jam 10 malam), tiba-tiba ada kegaduhan dalam rumah dimana beberapa ibu-ibu berteriak -teriak. karena penasaran temanku (sumber) melongok ke dalam rumah dan astaga "sang mayat berjalan keluar " dari dalam kamar, spontan saja temanku (sumber) bersama teman2nya berteriak histeris dan berlari menuruni tangga. Sumber berlari menuju ayahnya sambil histeris ketakutan. setelah itu temanku (sumber) pun langsung dibawa pulang kerumah oleh ayahnya dan dia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Keesokan harinya kejadian tersebut rupanya cukup heboh diperbincangkan oleh warga dan informasi yang dia dengar bahwa Pongbarrak yang melakukan hal tersebut. konon dia iseng aja untuk membuat lelucon pada malam itu.


Pada zaman sekarang sudah sangat jarang orang Toraja yang mempraktekkan hal tersebut walaupun masih banyak generasi yang memiliki ilmu seperti itu. akan tetapi mereka masih sering mempraktekkannya pada binatang seperti ayam atau kerbau yang diadu dalam keadaan leher terputus. Binatang seperti kerbau yang sudah dipotong kepalanya dan dikuliti habispun, masih bisa dibuat berdiri dan berlari kencang, mengamuk kesana sini!...

Sumber : http://browiez.blogspot.com/2010/03/misteri-mayat-berjalan-dari-toraja.html
»baca selengkapnya...

Chachapoyas, Misteri Peradaban yang Hilang di Puncak Amazon Peru

Kota kuno Chachapoyas, negeri orang-orang awan yang hilang ratusan tahun lalu berhasil ditemukan. Sebutan "masyarakat awan" mungkin karena mengacu pada pegunungan andes yang selalu berselimut awan. Kehidupan dan kebudayaan kota kuno yang eksis sejak abad ke-9 ini, sampai sekarang masih misteri dan sulit diungkap karena mereka tidak banyak meninggalkan "catatan".

Meski hilang tanpa jejak selama ratusan tahun, namun jejak peradaban kota Chachapoyas yang kini masuk wilayah utara Peru, masih bisa ditemukan. Deretan patung-patung menghadap ke matahari terbit yang terkenal dengan sebutan "prajurit awan" tetap berdiri tegak hingga kini. Patung-patung itu melambangkan keperkasaan masyarakat mereka di masa lalu.
Situs Karija ini dibangun hampir 1 milenium. Sebenarnya itu merupakan kuburan, setiap patung melambangkan tokoh yang di makamkan di sana. Mungkin bisa dibilang mirip dengan situs-situs makam di Tanah Toraja, Sulawesi.
Patung-patung itu terbuat dari clay dan plant matt di mana di dalamnya berisi mumi para tokoh Chachapoya. Yang uniknya posisi patung berisi mumi itu sangat sulit dijangkau. Entah bagaimana masyarakat pada jaman itu membawa dan menempatkannya di sana. Sebab, telah diteliti, tidak ada jalan yang bisa diakses menuju tempat itu.
Kisah bangaimana kehidupan di Chachapoyas nyaris menjadi misteri karena tempatnya sangat terisolir. Kota kuno Chachapoyas yang hilang ini, ditemukan tahun 2008 di hutan lebat Amazon, yang sangat terisolir, oleh tim ekspedisi arkeologi. Jaraknya sekitar 500 km sebelah timur laut Lima.
Tim arkeologi menemukan benteng-benteng dari batu serta bangunan-bangunan yang berada di tepi jurang, sisa-sisa tembok yang memuat lukisan-lukisan yang di pahat di bebatuan. Mungkin ini dibangun mereka untuk melindungi dari musuh.
Sayangnya, tidak banyak yang tahu tentang keberadaan kota kuno ini. Hanya sedikit catatan tentang hal itu, termasuk tentang kebudayaan mereka yang berkembang di abad ke-9. Kenyataannya, kota kuno itu berada di puncak ketinggian. Diduga, kota di ketinggian itu sengaja dikembangkan untuk pertahanan terhadap musuh.
Akan tetapi nasib mereka menjadi tak menentu ketika kekaisaran Inca semakin berkembang dan berhasil menaklukkan mereka 500 tahun lalu. Meskipun bangsa Chachapoyas sempat memberi perlawanan keras, namun kekuatan Inca tak tertandingi.
Keberuntungan datang ketika Spanyol datang pada 1535. Sisa-sisa suku Chachapoyas berpihak pada Spanyol untuk berperang melawan suku Inca. Namun kemudian datang penyakit orang Eropa, yakni cacar, yang melenyapkan populasi mereka.

Penulis sejarah Cieza Pedro de León menulis, sosok orang-orang Chachapoyas berkulit putih dan tampan, kaum wanitanya cantik-cantik, itulah sebabnya banyak orang Inca ingin menjadikan mereka istri.
Makam tokoh orang-orang awan ini di chullas, di sisi tebing yang dicat dengan atap runcing, khususnya yang ditemukan di Revash. Namun yang paling mengesankan dari peninggalan konstruksi Chachapoyas adalah Kuelap, benteng monumental yang berada 9.500 meter di atas permukaan laut. Bangunan itu bagian luarnya dilindungi oleh batu-batu besar.

Di Kuelap ada sekitar empat ratus gedung yang mungkin ditempati oleh sekitar 3.500 jiwa. Bandingkan dengan bangunan milik bangsa Inca, Manchu Picchu yang terkenal. Kompleks ini (Kuelap) menunjukkan bahwa bangsa Chachapoyas pada 1000 tahun lalu telah mampu membuat suatu yang luar biasa.

Siapa yang tahu, apalagi yang akan ditemukan di pedalaman andes amazon? Semua memang masih misteri, seperti misteriusnya Chachapoyas. Minimnya catatan tentang suku ini memunculkan pesimis apakah bisa menguak kisah "orang-orang awan" ini.

sumber: http://www.dalimunthe.com/2010/03/chachapoyas-misteri-peradaban-yang_24.html

»baca selengkapnya...

Akhirnya Gunting Yang Nancap di Wajah Anak 4 Tahun Ini Bisa Dilepas

Maksud hati bocah 4 tahun ini membantu orang tuanya yang sedang memotong pita sebagai persiapan acara festival musim semi namun malang tak dapat ditolak, tiba tiba bocah yang bernama Xiao Yu tersebut tersandung dan jatuh, celakanya Yu terjatuh tepat pada posisi dimana terdapat sebuh gunting besar yang dipakai memotong pita sehingga gunting besi itupun langsung menancap di wajah bagian mukanya.
Gunting menancap tepat  dimuka wajah balita 4 tahun
Gunting menancap tepat dimuka wajah balita 4 tahun

Kasihan sekali, bocah yang masih tergolong balita tersebut yang masih lucu dan ceria harus menahan sakit yang teramat sangat. Akhirnya Yu dibawa ke rumah sakit terdekat di kota Qinglong kota Propinsi Qinghuangdao Cina.

Menurut berita yang dikutip ruanghati.com dari People Daily menyebutkan bahwa akhirnya tim dokter melakukan operasi untuk mengeluarkan gunting dari wajahnya agar bisa normal seperti sedia kala.
Yu bocah 4 tahun inipun  bisa tersenyum kembali setelah 8 hari pasca operasi
Yu bocah 4 tahun inipun bisa tersenyum kembali setelah 8 hari pasca operasi

Dan operasi inipun akhirnya dilakukan di Beijing setelah dirujuk dari rumah sakit pertama karena alasan keterbatasan fasilitas yang dimiliki. Dan operasi berlangsung selama 3 jam hingga akhirnya gunting yang menancap sedalam 7cm itupun berhasil dikeluarkan.
Setelah 8 hari pasca operasi akhirnya Yu bisa tersenyum kembali seperti dulu kala walau masih terlihat sedikit bekas luka diwajahnya. Pertolongan Tuhanpun datang menyelamatkannya. Terima kasih Tuhan, Puji Syukur kehadiratmu Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.

http://ruanghati.com/2010/03/25/akhirnya-gunting-yang-nancap-di-wajah-anak-4-tahun-ini-bisa-dilepas-dan-normal-kembali/
»baca selengkapnya...